Isi Pengajian Kitab Risalah, Gus Kautsar: Kader PKB Istiqomah di Jalur Perjuangan Umat

Gus Kautsar mengisi pengajian kitab risalah di DPP PKB. (Foto ; Garda Bangsa).

Garda Bangsa- Gus Kautsar dan Gus Fahim Ploso Kediri Jawa Timur mengisi Pengajian Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah Karangan Hadaratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari di Kantor DPP PKB Raden Saleh Jakarta Pusat. 18. Februari 2021. Kader PKB seluruh Indonesia mengikuti acara melalui daring. Termasuk juga dengan kader sayap PKB, DKN Garda Bangsa.

Dalam paparannya Gus Kautsar menyampaikan bahwa Ijtihad Ulama menyampaikan pendapatnya diyakini telah bersambung kepada Pemeganga As Syarik (Allah dan Rasulnya). Sehingga apapun yang dilakukan oleh Ulama Salaf dan diteruskan oleh Ulama’ Kholaf (kekinian) tidak bisa serta merta disebutkan sebagai tindakan bid’ah.

Pengajian Kitab Kuning Risalah Ahlilulussunnah Wal Jamaah. (Foto : Garda Bangsa).

Sebaliknya kalau ulama’ salaf tidak melaksanakan salah hadits Nabi tidak serta merta juga dikatakan sunnah.

“Namun Imam Syafii berpendapat lebih moderat dengan mengatakan bahwa apapun hasil Ijtihat Ulama sudah berlandaskan dari Allah dan Rasulnya. Sehingga menjadi ketetapan dan menjadikan pegangan walaupun dipraktekkan dalam konteks hukum dan sosialnya” jelas Gus Kautsar.

Lebih jauh Gus Kautsar mencontohkan ada orang lewat di depan orang sholat, ada hadits yang menjelaskan bahwa orang yang lewat di depan orang sedang sholat tersebut boleh dipukul bahkan dibunuh. Tapi tidak ada satupun madzhab yang menjalankannnya. Masih menurut Gus Kautsar bahwa berbeda pendapat keilmuan biasa yang penting sama mempunyai sanad keilmuan.

Gus Kautsar mengakui kedekatan dengan PKB karena mempunyai hubungan historis yang panjang dengan Ayahanda Gus Kautsar dan berdirnya Partai PKB.

Ulama muda dalam Pengajian Kitab Kuning Risalah Ahlilulussunnah Wal Jamaah. (Foto : Garda Bangsa).

“Saya masuk kantor PKB seperti masuk rumah sendiri. Karena PKB adalah warisan ulama Nusantara yang mempunyai sanad keilmuan dan perjuangan,”ungkap Gus Kautsar.

Gus Kautsar meminta ke seluruh Kader PKB terus istiqomah di jalur perjuangan umat, melayani sebagai sarana ibadah. Ia juga memberikan kiat-kiat berjuang di Partai Politik yang didirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) itu yang dinukil dari keterangan Syekh Abdul Qodir Jaelani, bahwa “saya bisa sampai kepada Allah bukan karena ahli Ibadah, tapi karena dermawan tawadu dan jujur,” kata Gus Kautsar menyampaikan apa yang dikatakan Syekh Abdul Qodir Jaelani.

Menurutnya Kader PKB harus dermawan kepada sesama dan meningkatkan kepedulian sosial untuk menjaga marwah partai, membangun rasa takut kepada Allah dan terus menebar cinta kepada sesama.

Acara berlangsung khidmat dan tegakkan protokol kesehatan. (Foto ; Garda Bangsa).

“Semua Hal di dunia ini bertolak kepada dua hal. Pertama Membangun rasa syukur kepada Allah. Kedua Membangun hubungan baik kepada sesama” ungkapnya menukil salah satu pendapat ulama Nusantara.

Gus Kautsar berpesan tidak perlu memperdulikan orang yang berbicara di luar sana teruslah bekerja dan membuat karya, karena menurutnya meladeni perdebatan yang tidak penting dapat menutup berkah.

Selain itu Gus Kautsar sangat senang dengan kepemimpinan PKB karena Gus Ami dikelilingi oleh anak buah yang baik dan loyal. Ini karena pemimpin yang baik akan didampingi oleh orang-orang baik.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Fahim dari Ploso menambahkan bahwa Semua Mujtahid yang berpendapat tidak bisa dilawan dengan pendapat Mujtahid lain karena qoil yang berijtihad tidak bisa di lawan dengan Mujtahid lainnya.

“Jadi konsekuensi dari ijtihad adalah mengamalkannya” ungkapnya.

Namun demikian Gus Fahim menambahkan bahwa seorang Mujtahid sendiri tidak boleh menyalahkan mutahid lain karena seorang mujtahid tetap berpotensi salah. Lebih jauh Gus Fahim menjelaskan di dalam Kitab Karangan Kiai Hasyim Asy’ari tersebut bahwa Kalau diperbolehkan pertentangan antar satu Mujtahid satu dengan Mujatahid lain saling membid’ahkan maka akan terjadi kehancuran umat.

Maka tatkala hasil hukum ijtihad tadi ditetapkan maka potensinya hanya dua kalau Hasil Ijtihad benar maka akan mendapatkan pahala dua kalau dia disisi Allah salah maka tetap mendapatkan pahala satu.

“Karena seseorang menafsirkan Hadits tidak mungkin tunggal” pungkasnya. (San/Gin).

Leave a Reply

Your email address will not be published.